Selamat Datang Di Blognya Abid

sang pemuda...

3:43 PM / Posted by . / comments (0)

80 tahun sudah Sumpah Pemuda berkumandang di sanubari setiap anak negeri. Kalimat sakral itu memberikan semangat yang mendalam di dada para pemuda Indonesia akan persatuan dan kesatuan demi mewujudkan kebebasan di ibu pertiwi. Sehingga setiap jejak sejarah selalu melibatkan para pemuda. Setiap pergantian jaman selalu pemuda yang berada di garda paling depan dalam mengawal transisi perubahan yang lebih baik. Darah pemuda selalu mengalir pertama kali, menghadang setiap kesewenang-wenangan di negeri ini.

Kita ingat awal mula kalimat ini dipekikkan diantara hunusan bayonet prajurit penjajah di tahun 1928. Momentum inilah yang memberikan angin segar di tahun 1945, sehingga kita bisa menikmati kemerdekaan yang telah lama kita idamkan. 1966, kegelisahan para pemuda kembali muncul, melihat congkaknya rezim orde lama yang lupa dengan komitmen awalnya dalam menciptakan kesejahteraan rakyat. Kembali darah pemuda tersembur, menjawab tirani penguasa. Tidak sampai disini, Orde baru yang menggantikan orde lama ternyata sangat berbau kapitalis. Tahun 1974 para pemuda kembali berontak, melawan kapitalisasi di negeri ini. Tetapi oleh penguasa dijawab dengan tindakan represif. Para pemuda diciduk, diculik, dihantam dan dipenjara tanpa diadili. Banyak aktivis yang hilang pada masa itu. Dituduh antek-antek komunis, yang kemudian dianggap halal darahnya.

Puncaknya di tahun 1998, ribuan pemuda yang sudah sangat bosan dengan kebusukan rezim orde baru mendatangi rumahnya sendiri yang menjadi tempat perwakilannya dalam menyuarakan “aspirasi” rakyatnya. Tetapi lagi-lagi mereka dihadang, tidak dengan senjata laras panjang sekarang, tetapi dengan mocong tank dan jeruji kawat besi. Model pemberangusan penguasa ala orde baru kembali di lakukan. Penculikan, penganiayaan, pembakaran, dan penembakan menjadi berita yang setiap hari muncul di layar kaca. Tetapi semua itu dibayar dengan tumbangnya orde baru. Pekikan kemenangan bertalu-talu di seluruh negeri. Hawa kebebasan kembali berhembus di awang-awang nusantara.

Meski kebebasan kini sudah kita raih, tetapi kejahatan kemanusiaan yang dilakukan penguasa terdahulu tidak serta merta dengan mudah terungkap. Aktivis-aktivis tetap menghilang tanpa jejak. Sisa-sisa rezim ternyata masih bercokol kuat di negeri ini, sehingga tidak ada yang berani mengungkap siapa pelaku sebenarnya.

Akhirnya, kebebasan yang kita nikmati kini merupakan investasi dari ribuan darah pemuda Indonesia, yang dengan gigih memperjuangkan kebebasan di negeri ini. Apakah kita akan tetap berdiam diri ketika kembali melihat kesewenang-wenangan di tanah air ini? Jika ya, berarti kita sudah menyia-nyiakan ribuan darah para pendahulu kita.

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversi dan menggangu keamanan
Maka hanya satu kata : lawan !
(Peringatan, Wiji Thukul)

kepadaNya kita akan kembali

3:21 PM / Posted by . / comments (0)

aku mati sebagai mineral
dan menjelma sebagai tumbuhan,
aku mati sebagai tumbuhan
dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut?
Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.

Sekali lagi,
aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.
Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
aku masih akan menjelma lagi
dalam bentuk yang tak kupahami.

Ah, biarkan diriku lenyap,
memasuki kekosongan, kasunyataan
Karena hanya dalam kasunyataan itu
terdengar nyanyian mulia;
“KepadaNya, kita semua akan kembali”

Jalaluddin Rumi

mukjizat

2:14 PM / Posted by . / comments (0)

Mukjizat tak pernah datang tanpa mengecoh. Manusia punya kemampuan besar untuk membentuk khayal jadi janji—dan mempercayai janji itu setelah mengemasnya dengan ”iman” atau ”ilmu”.

Di zaman ”iman”, orang percaya akan deus ex machina, dewa yang keluar tiba-tiba dari ”mesin” dan menyelamatkan manusia dari tebing jurang bencana. Di zaman kini—persisnya di zaman ketika seorang bernama Heru Lelono hidup di dekat Presiden Indonesia, di masa ketika kata ”ilmu” & ”teknologi” sering membuat mata silau—orang pun percaya akan blue energy dan padi ”Super Toy HL-2”.

Tapi, untunglah, tak semua dan tak selamanya orang teperdaya. Mukjizat hanya laris ketika yang terkecoh dan yang mengecoh bersatu, ketika ada hasrat yang diam-diam mencekam, agar hari ini yang terpuruk dapat ditinggalkan dengan ”loncatan jauh ke depan”.

Padahal, sejarah tak pernah terdiri atas loncatan seperti itu. Hasrat buat mendatangkan mukjizat selamanya gawal, bahkan ketika ia didukung ”iman” yang bergabung dengan ”ilmu”.

Contoh yang terkenal adalah cerita Trofim Lysenko di Uni Soviet di masa kekuasaan Stalin. Pada 1927, dalam usia 29, anak petani Ukraina yang pernah belajar di Institut Pertanian Kiev ini menjanjikan mukjizat. Koran resmi Pravda (artinya ”Kebenaran”) menyebut Lysenko bisa ”mengubah padang gersang Transkaukasus jadi hijau di musim dingin, hingga ternak tak akan punah karena kurang pangan, dan petani Turki akan mampu hidup sepanjang musim salju tanpa gemetar menghadapi hari esok”.

Dengan proses yang disebutnya ”vernalisasi”, Lysenko mengklaim ia mampu membuat keajaiban itu. Partai yang berkuasa—yang selamanya ingin dengan segera dapat kabar baik—mendukungnya, dan Stalin mendekingnya. Tak seorang pakar pertanian pun yang berani membantah. Sejak 1935, Lysenko bahkan diangkat ke jabatan yang penting: memimpin Akademi Ilmu-ilmu Pertanian. Di sini ia bisa menggeser siapa saja yang tak menyetujuinya. Baru pada 1964, hampir sedasawarsa setelah Stalin mangkat, ilmuwan terkemuka Andrei Shakarov secara terbuka mengecamnya: Lysenko-lah yang bertanggung jawab atas kemunduran yang memalukan bidang biologi Uni Soviet, karena ”penyebaran pandangan pseudo-ilmiah”, bahkan penyingkiran dan pembunuhan para ilmuwan yang sejati.

Kehendak untuk mukjizat acap kali berkaitan dengan hasrat untuk super-kuasa: ”iman” atau ”ilmu” seakan-akan bisa membawa seseorang ke sana. Itu sebabnya mukjizat yang mengecoh tak hanya terbatas pada kasus macam Lysenko. Ada contoh lain dari Cina. Menjelang akhir 1950-an, Mao Zedong—yang beriman kepada sosialismenya sendiri dan merasa sosialisme itu ”ilmiah”—menggerakkan rakyat di bawah kekuasaannya agar membuat ”loncatan jauh ke depan”.

Mao ingin agar Cina yang ”terkebelakang” akan dengan waktu beberapa tahun jadi sebuah negeri industri yang setaraf Inggris. Caranya khas Mao: mobilisasi rakyat. Di pedesaan Cina yang luas, ribuan tanur tinggi untuk produksi baja dibangun dengan mengerahkan segala bahan yang ada. Hasilnya: baja yang tak bermutu. Sementara itu, di seantero Cina yang luas, selama dua tahun berjuta-juta petani telah dikuras tenaganya untuk itu, hingga sawah dan ladang telantar—dan kelaparan pun datang. Berapa juta manusia yang mati akibat itu, tak pernah bisa dipastikan.

Keinginan untuk mendapatkan mukjizat mungkin sebanding dengan tingkat putus asa yang menghantui mereka yang mendambakan deus ex machina. Manipulasi Lysenko terjadi ketika Uni Soviet menghadapi krisis pangan setelah ladang-ladang pertanian diambil alih negara dan panen gagal bertubi-tubi. Saya kira fantasi Mao tak bisa dipisahkan dari trauma macam yang pada 1928 dilukiskan dalam A Learner in China: A Life of Rewi Alley tentang bocah-bocah buruh perajutan sutra di Shanghai, yang berbaris panjang, berdiri selama 12 jam di depan kuali-kuali perebus kepompong yang mendidih.

Anak-anak berumur sekitar sembilan tahun itu menatap lelah, sementara jari tangan mereka bengkak memerah memunguti kepompong ulat sutra yang direbus itu. Para mandor berdiri di belakang mereka dengan cambuk kawat, tak jarang mendera bocah yang salah kerja. Ada yang menangis kesakitan. Di ruangan yang penuh uap dan panas itu, ”mereka terlalu sengsara untuk bisa dilukiskan dengan kata-kata”, tulis Alley.

Kita tahu, kesengsaraan itu juga tanda ketidakadilan. Dan memang tak mudah buat bersabar di hadapan itu. Maoisme berangkat dari kehendak menghabisinya, dengan rencana yang cepat dan tepat. Tapi apa yang ”tepat” dalam sejarah yang senantiasa bergerak, berkelok, dan tak jarang jadi kabur? Baik ”iman” maupun ”ilmu” acap kali membuat hal-hal jadi terlampau mudah diselesaikan. Apalagi jika, seperti dalam hal blue energy dan ”vernalisasi”, ada kekuasaan yang bersedia mendesakkan mukjizat itu.

Tentu saja harus dicatat: Indonesia hari ini bukan Uni Soviet di masa Lysenko, bukan pula Cina di masa Mao. Di sini ”iman” dan ”ilmu” tak dibiarkan memegang monopoli. Informasi mengalir leluasa, pertanyaan dan keraguan dengan bebas dinyatakan, dan tiap pengetahuan diperlakukan hanya sampai kepada tingkat pengetahuan, bukan kebenaran. Dan di sini, bahkan kantor kepresidenan tak bisa dan tak hendak membungkam perdebatan.

Mukjizat Lysenko dalam ilmu biologi berlangsung antara 1927 dan 1964, dengan korban yang tak sedikit. Mukjizat Mao lebih sebentar, tapi menghancurkan kehidupan jutaan manusia. Mukjizat blue energy dan ”Super Toy HL-2” lebih pendek umurnya. Mungkin kita perlu bersyukur. Kita masih bisa melihat keyakinan dan kepastian, ”iman” dan ”ilmu” sebagai kekuatan yang sementara.